September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Waspada Konsumsi Gula Berlebih, Berbahaya Bagi Otak!

Waspada Konsumsi Gula Berlebih, Berbahaya Bagi Otak!

Bandung, Omicron Indonesia – Rasa manis yang terkandung dalam gula sering kali diminati karena mampu menambah kenikmatan suatu olahan makanan atau minuman. Tak heran bila gula menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dari gaya hidup seseorang.

Gula yang pada hakikatnya memberikan manfaat bagi tubuh, dapat dijumpai secara alami pada buah-buahan dan sayuran. Tak terkecuali juga pada makanan berat hingga camilan sedang, gula ini sering ditambahkan. Tentunya gula alami lebih baik dari pada gula yang terdapat pada olahan kudapan.

Manfaat Gula Dalam Tubuh

Dalam tubuh, gula yang diserap oleh darah bertindak sebagai sumber bahan bakar utama yang akan menghasilkan molekul berenergi tinggi yaitu adenosine triphosphate (ATP) yang dibutuhkan oleh hampir seluruh jaringan. Termasuk otak yang lebih banyak menggunakan energi dibandingkan organ tubuh yang lain pada manusia.

Meskipun begitu, asupan gula yang berlebihan akan meninggalkan banyak resiko kesehatan. Bukan hanya bobot tubuh yang meningkat signifikan, namun juga dapat menimbulkan obesitas sebagai pemicu utama penyakit diabetes dan jantung.  Tetapi apa yang terjadi ketika otak terpapar gula dalam jumlah besar?

Mengkonsumsi Gula Berlebih Apakah Berbahaya?

Dilansir dari Very Well Mind, kelebihan gula bagi otak dapat  merusak kemampuan kognitif dan kontrol diri. Gula memiliki efek seperti obat di pusat Reward otak. Para ilmuwan mengatakan  bahwa makanan manis mampu memicu efek seperti kecanduan di otak manusia, mendorong hilangnya kontrol diri, makan berlebihan, dan kenaikan berat badan, dll.

Pada manusia, makanan tinggi glikemik telah ditemukan dapat mengaktifkan daerah otak yang terkait dengan Reward Response dan memicu rasa lapar yang lebih kuat dibandingkan dengan makanan rendah glikemik. Makanan yang menyebabkan peningkatan glukosa darah yang lebih tinggi menghasilkan dorongan adiktif yang lebih besar di otak.

Dikutip dari Neuroscientifically Challenged, istilah Reward System mengacu pada sekelompok struktur yang diaktifkan dengan memberi reward atau memperkuat rangsangan, misalnya obat adiktif. Reward System  umumnya dianggap terdiri dari jalur dopamin utama otak (terutama jalur mesolimbik). Jalur ini menghubungkan area tegmental ventral (VTA), salah satu daerah penghasil dopamin utama di otak, dengan nucleus accumbens, area yang ditemukan di ventral striatum yang sangat terkait dengan motivasi dan reward.

Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition menggunakan indeks glikemik (GI) – yaitu ukuran bagaimana makanan tertentu dikonversi menjadi glukosa dalam tubuh – untuk menguji proses ini dan menemukan makan makanan tinggi GI menimbulkan aktivitas otak yang lebih besar di daerah yang terlibat dalam perilaku makan, reward, dan keinginan.

Baca Juga : Aplikasi Hits 2020, TikTok Terancam Diblokir!

Studi tambahan tentang aktivitas otak telah memberikan bukti yang mendukung gagasan bahwa makan manis berlebihan mampu mengurasangi respon Reward System pada otak, yang kemudian mendorong timbulnya kecanduan. Bahkan, sebuah penelitian yang dipublikasikan PLoS One menemukan bahwa makanan manis bisa lebih mengakibatkan kecanduan daripada kokain.

Adapun, peningkatan glukosa dalam aliran darah dapat menimbulkan bahaya lain bagi otak, mengakibatkan fungsi kognitif melambat dan defisit dalam memori dan perhatian.

Pengaruh Konsumsi Manis Bagi Otak Manusia

Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi gula yang tinggi menyebabkan peradangan di otak, yang menyebabkan kesulitan dalam mengingat. Namun, menurut sebuah studi pada 2017 dalam jurnal Appetite menemukan bahwa kerusakan memori yang disebabkan oleh konsumsi gula dapat diperbaiki dengan melakukan diet rendah manis, kadar GI yang rendah. Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients pada 2015 menemukan pengurangan konsumsi gula dengan mengonsumsi makanan yang mengandung asam lemak omega-3 dan curcumin, sehingga dapat kembali  meningkatkan daya ingat.

Sebagaimana manfaat dan efek samping yang terkandung dalam sukrosa, mengontrol asupan bahan tersebut sangatlah penting. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyarankan konsumsi gula per hari yaitu sebanyak 50 gram, atau setara dengan 5-9 sendok teh, sebagaimana yang dipublikasikan oleh Hallo Sehat.  Adapun rasa manis yang lebih kaya nutrisi bisa didapatkan dari buah segar yang memiliki kandungan serat, antioksidan, dan phytochemical yang mampu mengurangi lonjakan glukosa dan sejenisnya dalam aliran darah dan memblokir efek negatifnya.

 

Editor : Tegar Tri Sawali