September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Terlalu Keras Mengejar Ambisi, Memang Hidup Ini Untuk Apa?

Terlalu Keras Mengejar Ambisi, Memang Hidup Ini Untuk Apa?

Bandung, Omicron Indonesia ‘Tahun yang melelahkan’, mungkin ungkapan tersebut merupakan julukan yang tepat untuk menggambarkan keadaan tahun 2020 ini. Awal tahun 2020 masyarakat Indonesia dikejutkan dengan bencana banjir besar yang melanda Jakarta dan sekitarnya selama berhari-hari. Setelah itu, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan kedatangan si kecil mematikan yang berasal dari wuhan, yaitu virus corona. Belum selesai virus corona mengubah kehidupan umat manusia, muncul lagi UU Omnibus Law yang menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat.

Rasanya hingga tahun 2020 ini, menjadi tahun yang penuh dengan kontroversi dan melelahkan pikiran bagi masyarakat Indonesia. Belum lagi beban pekerjaan, sekolah, ambisi pribadi yang terus menghantui masing-masing individu sepanjang hari. Satu pertanyaan yang muncul, apakah pernah Omicronians merasa lelah dengan semua ini? Jika jawabannya iya, maka Omicronians sedang mengalami kelelahan emosi.

Hidup Ini Untuk Apa?

Setelah melakukan analisa pribadi serta menyadari bahwa Omicronians sedang mengalami kelelahan emosi, mari kita kembali ke pertanyaan yang sangat mendasar bagi hidup ini. Sebenarnya hidup ini untuk apa sih? Mengapa kita harus terus berambisi mengejar sesuatu dengan sangat gigih?

Saat ini hidup seakan dibuat seperti sebuah kompetisi panjang, dengan hasil akhir hanya diukur dari seberapa banyak harta yang bisa Omicronians kumpulkan. Harta hanya sebagian kecil dari stigmatisasi masyarakat, yang dijadikan sebagai indikator kesuksesan hidup.  Masih ada lagi indikator kesuksesan yang berkembang di masyarakat, seperti ketampanan, bentuk tubuh, dan hal lainnya yang cukup berat apabila dipikirkan.

Baca Juga : Menyikapi Isu Trending, Kamu Simpati atau Antipati?

Tentunya stigma yang berkembang di masyarakat, terkait indinkator kesuksesan itu tidak sepenuhnya salah. Karena pada dasarnya apabila Omicronians memiliki harta yang cukup berlebih, Omicronians dapat memberikan manfaat lebih bagi lingkungan sekitar juga. Namun, dengan indikator kesuksesan yang telah berkembang di masyarakat tersebut, memaksa mayoritas masyarakat Indonesia untuk berlomba-lomba meraih pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan yang lebih baik dibanding orang lain.

Pendidikan Tinggi Berbanding Lurus dengan Tingkat Depresi

Pada tahun 2018 muncul sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan asal Thailand dan Afrika, terkait tingkat prevalensi depresi di Indonesia yang berskala nasional. Penelitian dilakukan dari tahun 1993, dengan melibatkan 16.204 rumah tangga. Alat ukur depresi yang digunakan pada penelitian ini adalah Centers for Epidemiologic Studies Depression Scale (CES-D 10).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Karl Peltzer dan Supa Pengpid ini menunjukan, bahwa 21,8% responden yang berada di rentang umur 15 tahun keatas mengalami gejala depresi sedang hingga berat. Gejala depresi tersebut akan menurun seiring dengan pertambahan usia, dan melewati fase dewasa menuju lanjut usia.

Namun menurut Peltzer dan Pengpid, hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa orang yang berpendidikan tinggi lebih rentan mengalami tingkat depresi yang lebih berat.  Kemudian pada penelitian itu juga ditemukan, bahwa mayoritas laki-laki yang ada di Indonesia lebih mengalami tingkat depresi yang lebih tinggi dari pada perempuan.

Berambisi itu Baik, Tapi Jangan Lupa Istirahat Ya!

Hasil penelitian tersebut, tentunya menjadi peringatan bagi kita semua untuk tidak terlalu berambisi pada kehidupan. Mengejar pendidikan, karier, bisnis itu baik karena dapat menunjang kemajuan sebuah Negara. Namun, jangan sampai ambisi-ambisi tersebut membuat Omicronians mengalami gejala depresi yang berat.

Di tengah mengejar ambisi tersebut, Omicronians juga mempunyai orang tua, anak, teman, sahabat, pacar, serta individu lain yang berpengaruh terhadap kehidupan Omicronians. Sesekali berinteraksi secara intens dengan mereka, buat rencana liburan jangka pendek dengan mereka. Atau, menghabiskan waktu seharian penuh dengan orang terkasih di café favorit juga bisa menjadi pilihan alternatif bagi Omicronians untuk melepas penat. Pada intinya, tetap semangat menjalani hari-hari yang penuh tantangan dengan support orang-orang terkasih ya, Omicronians!

 

Editor : Tsania Nurhayati Karunia Dewi

Omicron Indonesia