September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Terapi Plasma Darah Harapan Baru Bagi Masyarkat Dunia

Terapi Plasma Darah Harapan Baru Bagi Masyarakat Dunia

Bandung, Omicron Indonesia – Harapan baru muncul ditengah pandemik 2019-nCoV yang  telah menginfeksi lebih dari 2 juta orang diseluruh dunia. Beberapa Negara seperti Amerika Serikat dan India, mengumumkan bahwa terapi plasma darah efektif dalam proses penyembuhan pasien COVID-19.

Salah satu dokter dari Children’s Hospitals of Philadelphia (CHOP) yaitu dr. David Teachey mengumumkan, bahwa terapi plasma darah sangat efektif bagi pasien COVID-19 anak-anak . Lebih lanjut dokter tersebut mengatakan bahwa seluruh pasien yang diberi terapi tersebut, mengalami proses penyembuhan yang lebih cepat.

Selain dari Amerika Serikat, kabar efektifitas dari terapi ini pun datang dari India. Dilansir livemint.com, bahwa pasien pertama yang menerima terapi ini adalah seorang pria berusia 49 tahun. Pasien tersebut dalam keadaan kritis dan ditunjang oleh ventilator untuk bernapas, sebelum diberi terapi plasma darah ini.

Namun diumumkan langsung oleh pihak rumah sakit tempat pasien tersebut dirawat, yaitu Max Hospital. Pasien tersebut telah menunjukan trend penyembuhan yang positif, bahkan pasien tersebut tidak lagi dibantu oleh ventilator untuk bernafas setelah diberi terapi plasma darah ini.

Penjelasan Singkat Terapi Plasma Darah

Penejelasan sederahana dari terapi ini, mirip seperti proses donor darah. Terapi ini, memanfaatkan plasma darah dari pasien yang telah sembuh sebelumnya dari COVID-19. Kemudian, plasma darah tersebut nantinya akan ditransfusikan kepada pasien aktif COVID-19.

Plasma darah yang didonorkan, mengandung antibodi yang berasal dari pasien COVID-19 yang telah sembuh. Sehingga, nantinya antibodi tersebut akan membantu pasien COVID-19 aktif penerima donor untuk melakukan proses penyembuhan dengan lebih cepat.

Terapi ini telah ditemukan jauh sebelum pandemic 2019-nCoV terjadi, Emil von Behring seoarang fisiologis dari jerman adalah orang pertama yang menemukan terapi ini. Terapi ini juga dilakukan ketika wabah ebola, H1N1, dan flu spanyol terjadi dan terbukti efektif.

Akan tetapi, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat hanya merekomendasikan, terapi ini terhadap pasien COVID-19 dalam keadaan kritis dan mengancam jiwa.

 

 

Baca Juga : Pemerintah Blokir IMEI Ponsel Black Market