September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Penjelasan Ilmiah, Mengapa Kita Sering Typo?

Penjelasan Ilmiah, Mengapa Kita Sering Typo?

Bandung, Omicron Indonesia – Saat ini, kegiatan menulis telah dilakukan oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Tak hanya seorang penulis yang jelas-jelas mengantongi tujuan untuk menghasilkan sebuah karya, pengguna ponsel pun tak kalah familiar dengan kegiatan tersebut.  Berbicara soal menulis, sering kali kita dijengkelkan dengan kesalahan dalam penulisan, atau kaum milenial banyak menyebutnya dengan istilah ‘typo’.

Apa Itu Typo?

Typo yang merupakan kependekan dari typography error (salah ketik) kerap kali dapat mengakibatkan hilangnya kesempurnaan dalam tulisan. Bagaimana tidak, makna yang ingin disampaikan oleh penulis seketika menjadi rusak oleh ambiguitas kata yang salah tersebut. Mengetik terburu-buru, ukuran tombol keyboard yang terlalu kecil, dan fitur auto prediction menyala, adalah beberapa faktor umum yang biasanya mengundang typo.

Namun demikian, meski typo yang sudah populer di Indonesia sejak 2012 ini dapat diminimalisir dengan menghindari faktor umum, ternyata salah ketik ini akan terus berpotensi dialami saat kita melakukan kegiatan penulis, lho. Dan ada juga ilmu yang menjelaskan mengapa kita sulit dalam menangkap typo dalam tulisan kita sendiri.

Seorang Psikolog dari University of Sheffield di Inggris bernama Tom Stafford mempelajari tentang psikologi typo ini dan menjelaskannya dalam artikel Wired. Saat seseorang melakukan typo bukan berarti karena ceroboh atau bodoh, melainkan otak terlalu cerdas dalam menyelesaikan tugas yang lebih berat sehingga mengabaikan hal yang kecil. Stafford mengatakan, “Ketika Anda sedang menulis, Anda mencoba menyampaikan makna. Itu adalah tugas otak dengan level yang sangat tinggi”.

Baca Juga : Realme Rilis Smartphone Gahar Dengan Harga 1 Jutaan!

Penelitian Ilmiah Terkait

Saat otak menjalankan tugas tingkat tinggi, otak akan melakukan generalisasi bagian komponen yang sederhana (seperti mengubah huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat) sehingga dapat fokus pada tugas yang lebih kompleks (seperti menggabungkan kalimat menjadi ide yang kompleks). Hal ini karena otak menyimpan fokus yang lebih besar pada proses penyampaian makna untuk pembaca pada sebuah tulisan.

Analoginya seperti ini, saat kita terbiasa untuk pergi ke kampus melewati jalan tertentu, setiap detil yang terjadi di sekitar jalan sering kali diabaikan, karena otak dengan mudah menjalankan perintah yang sebelumnya pernah dilakukan. Seperti halnya dalam kegiatan menulis, seseorang menjadi terbiasa saat harus menyampaikan informasi melalui sekelumit paragraf dan mengabaikan kesalahan penulisan di setiap kata.  “Alasan mengapa kita tidak dapat melihat kesalahan mengetik kita sendiri, karena apa yang kita lihat di layar (komputer) bersaing dengan versi yang ada di kepala kita,” jelas Stafford.

Berbeda halnya saat orang asing melewati suatu jalan yang belum pernah dilewati sebelumnya, orang tersebut akan lebih banyak memberikan perhatian yang lebih pada kondisi di sekitar perjalanan. Perumpamaan inilah yang memiliki kesamaan dengan seorang editor yang mampu lebih teliti dalam mengecek kesalahan dalam tulisan. Hal ini karena otak merasa asing dengan suatu hal yang divisualisasikan oleh mata.

Hal yang menjadi perlu di-highlight saat ingin mendapatkan letak kesalahan mengetik ini adalah dengan membuat kondisi yang terbiasa menjadi seasing mungkin, menurut Stafford. Jika ingin menangani typo sendiri dapat dilakukan, “Ubah jenis huruf atau warna latar belakang, atau cetak lalu edit dengan tangan,” ucapnya.