September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

MENYIKAPI ISU TRENDING, KAMU EMPATI ATAU ANTIPATI?

MENYIKAPI ISU TRENDING, KAMU EMPATI ATAU ANTIPATI?

Bandung, Omicron Indonesia – Menginjak seperempat tahun terakhir, bulan Oktober kini masih menjadi bagian dari saksi serangkaian peristiwa yang terjadi sepanjang  tahun 2020. Diawali dengan bencana banjir di sejumlah wilayah Indonesia, yang mengakibatkan tak sedikit nyawa terenggut. Kejadian hilangnya nyawa ini kian menambah kepiluan dengan adanya tragedi pelajar SMPN 1 Turi yang terseret arus saat menjalani kegiatan pramuka hingga kepergian public figure yang mengagetkan masyarakat. Terlebih pandemik COVID-19 rupanya telah menjadi icon peristiwa terpanjang di tahun ini. empati

Seolah tak ada hentinya, hal yang kurang menyenangkan juga menghujani dunia dengan kembali mencuatnya isu diskriminasi warna kulit. Keadaan ini sontak mengguncangkan media massa dengan digelontorkannya tagar #BlackLivesMatter. Twitter yang menjadi platform populer guna menyuarakan keresahan dan media penolakkan terhadap suatu kebijakan juga ikut meramaikan kontroversi dua Undang-Undang di Indonesia, yaitu RUU HALU (Ketahanan Keluarga) dan RUU CILAKA (Cipta Lapangan Kerja) yang telah banyak dijadikan topik diskusi sejak awal tahun.

Serangkaian peristiwa tersebut nyatanya mampu memberikan stimulus terhadap individu atau kelompok untuk menjadi reaktif dalam memberikan tindakan tertentu. Alih-alih dalam sepekan terakhir ini, berita mengenai disahkannya UU CILAKA atau Omnibus Law berhasil mengundang jutaan demonstran turun ke jalan demi menjegal kebijakan tersebut. Tagar #GagalkanOmnibus dan #JegalSampaiGagal turut menghiasi Trending twitter sebagai bentuk aksi virtual melawan undang-undang ini.

Apakah Tingkat Kepedulian Seseorang Berbeda-beda?

Tanpa disadari, kondisi demikian kemudian akan menarik lebih banyak kepedulian dari satu orang ke orang lain secara terus menerus. Namun, apakah Omicronians selalu mengikuti isu-isu tersebut? Di samping jumlah masyarakat yang sadar akan tragedi yang terus terjadi, ada pula sekelompok individu yang memilih untuk bersikap ‘tidak ikut-ikut-an’ dan ‘tidak mau tahu’. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kepedulian yang melekat pada setiap individu berbeda-beda.

Kajian mengenai sikap apatis terhadap berita yang tengah hangat ini memang belum banyak diteliti di Indonesia. Namun, sebagaimana yang dilansir oleh The Guardian (2018), seorang Wanita di Amerika meminta pada seorang Kolumnis New York Times bernama Roxane Gay, untuk mengatasi rasa lumpuhnya terhadap isu-isu politik. Wanita yang menyebut dirinya Apathetic Idealist ini mengaku marah akan sikap pemerintah yang salah satunya dalam menghadapi LGBT, namun ia tidak bisa melakukan aksi nyata.

“Saya yakin banyak orang yang memahami surat Anda. Saya bisa merasakannya,” jawab kolumnis mengawali tanggapannya. “Sungguh sulit untuk memperluas batas empati kita saat perhatian emosional kita sudah terlalu tipis.” empati

Pada Saat Kapan Seseorang Lelah Berbelas Kasih? Empati

Compassion Fatigue, istilah klinis yang mewakili kondisi Apathetic Idealist. Menurut Psikolog Charles Figley (2002) dalam Journal of Clinical Psychology yang berjudul “Compassion fatigue: psychotherapists’ chronic lack of self-care“, menyebutkan bahwa compassion fatigue atau ‘kelelahan berbelas kasih’ merupakan bentuk Secondary Traumatic Stress –konsekuensi alami berupa emosi akibat sering mengetahui peristiwa traumatis yang dialami oleh orang lain– yang mengacu pada keadaan kelelahan dan disfungsi secara biologis, psikologis dan emosional, sebagai akibat dari paparan yang terlalu lama terhadap stres setelah berbelas kasih.

Baca Juga : Bagaimana Cara Suku Sunda Menentukan Nasib Pernikahan Seseorang?

Pada jurnal Anxiety Stress & Coping berjudul “Compassion satisfaction, compassion fatigue, and burnout in a national sample of trauma treatment therapists”, Craig dan Sprang (2010) menjelaskan bahwa kondisi tersebut sering terjadi pada orang-orang yang berprofesi sebagai helper seperti perawat, psikiater, terapis, hingga karyawan di bidang kesehatan mental. Ketika mereka bekerja terhadap klien yang memiliki masalah serius atau stres yang berlebihan, mendengarkan  pengalaman traumatis klien, menyebabkan kondisi ini berisiko bagi terapis dan kliennya.

Pada tingkat yang optimal, keadaan klien dapat meningkatkan kinerja terapis dengan peningkatan motivasi, kewaspadaan mental, dan energi. Namun, di sisi lain dengan terlalu banyak tekanan yang dihasilkan, dapat mengancam integritas profesional. Tapi itu bisa dan telah diterapkan pada populasi umum juga, terutama ketika kita jenuh dengan permohonan untuk diperhatikan.

Sebuah studi di tahun 2016 oleh mahasiswa magister Arts Clinical Psychology di Universitas Detroit Mercy yaitu Brandi Roelk, meneliti tentang  faktor risiko yang berhubungan dengan compassion fatigue yang terjadi pada psikolog klinis. Survei dikirim ke 400 psikolog klinis tingkat doktor berlisensi di Kentucky, Illinois, dan Missouri. Responden menyelesaikan tes pribadi tentang compassion fatigue  untuk Psikoterapis, formulir demografi, dan pengukuran efikasi diri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin positif terapis yang memandang waktu mereka habiskan dalam terapi, semakin rendah risiko mereka untuk kelelahan karena berbelas kasih. Juga, analisis menemukan bahwa dokter yang melaporkan memiliki persentase klien yang lebih tinggi dengan diagnosis gangguan kepribadian akan memiliki risiko lebih tinggi untuk kelelahan karena belas kasih.

Apa Solusi Untuk Mengatasi Lelah dalam Berbelas Kasih?

Compassion fatigue  yang terjadi pada orang yang tidak berprofesi sebagai mental helper dapat dihindari. Seorang terapis keluarga memberikan beberapa solusi untuk mengatasi sindrom kelelahan berbelas kasih ini. Pertama, terapis menyarankan perlunya “mempersonalisasikan tragedi”, dengan  membaca kisah masing-masing korban dan menjalin hubungan dengan mereka sebagai sesama manusia, bukan korban anonim. Usaha ini dapat menimbulkan rasa empati dan melindungi kita dari sikap apatis.  Langkah kedua yaitu dengan melawan kelelahan berempati tersebut.  Jika hal itu masih sulit, upayakan untuk mencari tragedi yang lebih dekat dengan lingkungan kita.

 

Editor : Tegar Tri Sawali