September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Kutu Kucing, Ancaman Serius Bagi Pecinta Kucing

Kutu Kucing, Ancaman Serius Bagi Pecinta Kucing

Bandung, Omicron Indonesia – Memiliki hewan peliharaan memang dapat menjadi moodbooster dan kesenangan tersendiri bagi segelintir orang. Hewan berbulu seperti kucing dan anjing banyak dipilih dengan alasan sifatnya yang manja, lucu, dan penurut.  Menjatuhkan pilihan untuk memeliharan hewan berbulu di rumah, tentu sudah menyiapkan perawatan dan resikonya juga, kan, Omicronians? kutu kucing

Sayangnya, kucing bukanlah hewan yang hanya disukai oleh manusia saja. Kutu juga menyukai hewan berbulu satu ini sebagai tempat berkembang biak yang hangat, nyaman, dan terdapat sumber makanan bagi mereka. Keberadaan kutu ini akan semakin banyak seiring hewan peliharaan Anda diberikan kebebasan untuk pergi ke berbagai tempat di luar rumah dan bertemu hewan sejenis yang lain.

Walaupun parasit ini sangat kecil dengan ukuran  hanya kurang dari 4 milimeter saat ada menjadi dewasa, ternyata hal ini menjadi problem bagi banyak orang dalam menghentikan keberadaanya. Bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi hewan peliharaan (berbulu), tetapi juga ancaman kesehatan dan kebersihan bagi pemiliknya.

Penelitian Ilmiah Terkait Kutu Terhadap Kucing

Dipublikasikan oleh situs resmi Purdue University yang membahas Medical Entomology,  mengatakan bahwa dari perkiraan jumlah kutu di dunia ini yaitu 2.500 spesies, sekitar 325 di antaranya banyak ditemukan  di AS. Lebih dari 94% berhubungan dengan mamalia, dan hampir 6% dengan burung. Namun begitu, hama yang serius bagi hewan peliharaan, ternak, dan manusia adalah kutu kucing atau  Ctenocephalides felis. Disamping itu, kutu kucing juga dapat menyerang anjing. Kutu yang memiliki hubungan dekat dengan nama ilmiah Ctenocephalides canis (kutu anjing) bisa ditemukan di berbagai negara.

Ctenocephalides felis ini adalah parasit serangga dan membutuhkan makanan darah dari inangnya (mamalia atau burung), sebagaimana dilansir dari MY PETDOCTOR. Kutu kucing dewasa biasanya memiliki panjang 1/8 inci, lonjong, dan cokelat kemerahan. Dengan tubuh yang sangat tipis juga kaki belakang yang panjang dan kuat, mereka dapat bergerak bebas hingga melompat sejauh 200 kali panjangnya melalui bulu ke bulu di inangnya, ataupun keluar dari bulu-bulu tersebut.

Cara Kutu Menyerang Kulit Hewan

Kutu kucing memiliki kepala yang kecil dengan  mulut yang ramping dan memanjang guna menusuk kulit dan menghisap darah, dan perut besar tempat mereka menyimpan darah yang telah dihisap. Sekilas,  kutu kucing terlihat seperti titik-titik hitam kecil mengkilap di bulu hewan peliharaan, mereka berkembang biak dengan sangat cepat dan dalam jumlah besar. Kutu betina membutuhkan darah untuk perkembangan telur, dan akanterus bertelur selama mereka menghisap darah. Mereka mampu menghasilkan 25-40 telur per hari dan memiliki potensi hingga sekitar 2.000 telur dalam hidup mereka.

Dengan struktur tubuh yang dimiliki kutu kucing ini, selain mendapatkan sumber makanan dari inangnya, mereka juga dapat menggigit manusia namun tidak akan dapat beradaptasi di tubuh manusia. Gigitan ini memiliki potensi bahaya bagi manusia karena bahan kimia dalam air liur kutu akan merangsang respons kekebalan yang menyebabkan gatal. Respons imun yang sama bisa jauh lebih parah pada anjing dan kucing, mungkin menghasilkan respons alergi serius yang dikenal sebagai alergi gigitan kutu pada hewan peliharaan yang sensitif.

Tak hanya kemampuan menggigit yang dimiliki, kutu kucing juga adalah salah satu host dari cacing pita pori ganda, Dipylidium caninum. Cacing pita ini adalah parasit dari anjing dan kucing, tetapi dapat menginfeksi anak-anak yang menelan kutu ini kemudian mulai berkembang di usus anak. Adanya cacing pita di dalam usus tidak menunjukkan gejala serius, sehingga banyak yang tidak menyadarinya. Tanda paling jelas dari infeksi ini adalah munculnya tahap cacing pita, yang dikenal sebagai “proglottid” dalam pergerakan usus anak.

Penyakit yang Disebabkan Oleh Kutu Kucing

Mengenai probabilitas kutu ini hinggap di kulit manusia untuk mendapatkan darah yaitu berasal dari pergerakan hewan peliharaan yang mengunjungi setiap sudut rumah anda atau tempat tidurnya. Karena kemampuan meloncatnya yang baik, kutu ini dapat dengan mudah berpindah ke manusia dari bulu hewan peliharaan saat menggendongnya. Dan juga interaksi antar hewan berbulu juga tidak dapat dipungkiri menjadi penyebab berinangnya kutu dari luar ke hewan peliharaan Anda.

Baca Juga : Rahasia Kopi Sebagai Skincare yang Tidak Banyak Diketahui Orang

Di negara maju, penyakit yang ditularkan oleh kutu relatif kecil. Selain alergi yang ditimbulkan dari gigitan kutu, penyakit lain yang lebih serius juga dapat timbul, diantaranya:

1.    BUBONIC PLAGUE (Pes)

Pada abad pertengahan, penyakit ini dapat membunuh hampir setengah populasi di Eropa dan hingga sekarang masih berlangsung. Penyakit ini diakibatkan oleh infeksi bakteri Yersinia pestis. Disebut juga dengan black death, dan dapat menyebabkan hilangnya nyawa seseorang jika tak segera ditangani oleh ahli medis.

2. TIFUS

Penyakit ini ditularkan oleh beberapa spesies bakteri Rickettsia, yang menggunakan kutu dan  tungau sebagai inang dan kemudian menyerang manusia. Gejalanya adalah demam tinggi berulang-ulang, kedinginan, sakit kepala (sakit kepala), dan ruam kulit menyeluruh.

3.   BARTONELLA

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang melalui gigitan kutu, tungau, dan nyamuk dapat menginfeksi manusia dan menyebabkan berbagai gejala: demam, muntah, mual, lemas.

4.     FLEA ALLERGI DERMATITIS (FAD)

Penyakit kulit gatal eczematous pada kucing dan anjing. Gejalanya meliputi kemerahan, benjolan, pustula dan keropeng. Akibatnya, hewan dapat mengembangkan lesi berkerak dan terus-menerus menggaruk kulit mereka, sering menyebabkan hilangnya bulu. Pada manusia jarang terjadi, tetapi kita juga bisa mengalami luka keropeng dan gatal.

 

Editor : Noer Ardiansyah Laksana