September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Kontribusi Untuk Negeri, BATAN Ciptakan 2 Disinfektan Dengan Teknologi Sinar UV-C

Foto : Batan.go.id,

Kontribusi Untuk Negeri, BATAN Ciptakan 2 Disinfektan Dengan Teknologi Sinar UV-C

Bandung, Omicron Indonesia –  Di tengah pandemi virus corona yang menginang cukup lama hampir di seluruh negara, nyatanya tidak menyurutkan semangat untuk melawan virus asal Wuhan ini. Di Nusantara, berbagai inovasi brilian dan kontribusi dari banyak pihak terus disodorkan hingga saat ini.  Termasuk lembaga penelitian dan pengembangan, BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) juga ikut berkontribusi untuk negeri dalam upaya melawan COVID-19. disinfektan

Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN) BATAN sukses membuahkan inovasi, berupa remote mobile dan lemari UV-C Disinfektan . Kedua alat tersebut diklaim lebih efektif, untuk membunuh virus corona. Melalui pemanfaatan sinar ultra violet tipe C ini, fungsi kedua alat tersebut dimaksudkan untuk sterilisasi ruangan dan peralatan yang efektif dan efisien yang mungkin menjadi sumber penyebaran virus.

Sebagaimana yang dipublikasikan oleh situs resmi BATAN pada Senin (08/06/2020), Kristedjo sebagai kepala PRFN mengujar. “Wabah COVID-19 masih berlangsung dan mungkin dalam waktu yang lama. Maka untuk itulah dibutuhkan alat sterilisasi untuk ruangan dan peralatan yang efektif dan efisien dalam membasmi mikroba dan virus”. Beliau menambahkan bahwa alat berbasis UV-C ini telah banyak digunakan untuk sterilisasi rumah sakit dan alat transportasi publik di wilayah Wuhan, Cina.

Kedua alat tersebut mulai digarap beriringan dengan persebaran COVID-19 di tanah air. Remote mobile UV-C Disinfektan digunakan untuk sterilisasi ruangan dengan menjangkau setiap bagian secara fleksibel dan aman. Adapun dalam sterilisasi barang seperti alat kesehatan dan APD yang terkontaminasi virus bisa dengan menggunakan lemari UV-C Disinfektan.

Apa itu Sinar Ultra Violet Tipe C?

Sinar Ultra Violet pada dasarnya adalah dominasi cahaya yang dipancarkan oleh sinar matahari yang saat sampai ke bumi, sebagian akan dipantulkan kembali keluar oleh lapisan ozon. Energi radiasi ultra violet tidak mampu menginduksi ionisasi seperti halnya sinar-x, namun sinar ini memiliki kemampuan sebagai mutagen dan dapat membunuh sel dengan dosis yang tinggi.

Berbeda dengan UV-A dan UV-B, UV-C merupakan radiasi sinar matahari yang memiliki kemampuan baik dalam menghancurkan material genetik, termasuk pada partikel virus. UV-C tidak sampai ke permukaan bumi karena terserap oleh atmosfer bumi sehingga tidak dapat menjangkau dan merusak kulit manusia. Adapun pada tahun 1878, ilmuwan berhasil menciptakan UV-C buatan yang digunakan sebagai sterilisasi berbagai objek.

Baca Juga : Hongkong Ciptakan Antivirus yang Lebih Efektif!

Bagaimana Disinfektan tersebut bekerja?

Alat ini menggunakan lampu UV-C, dengan panjang gelombang 200-280 nanometer. Karateristik tersebut mampu membunuh dan menghentikan replikasi mikroorganisme virus dengan cara merusak DNA/RNA melalui induksi transformasi molekuler. Dan banyak penelitian yang berhasil mengungkap bahwa sinar ini efektif dalam membasmi jamur, bakteri, dan virus.

Selain mampu membunuh virus, bakteri, dan jamur, paparan sinar UV-C dalam jangka waktu tertentu juga dapat menjadi ancaman bagi manusia. Untuk itu, dalam mengoperasikan kedua alat tersebut dituntut untuk mengedepankan keselamatan operator.

Intensitas sinar UV-C dari Remote mobile Disinfektan dihasilkan sebesar 240 Watt dan 210 Watt untuk lemari UV-C Disinfektan. Namun, mekanisme tambahan juga digunakan pada lemari disinfektan dengan pembentukan gas ozon yang terbentuk selama penyinaran UV-C. Dan saat penyinaran telah selesai, blower akan mengosongkan gas ozon tersebut dari lemari disinfektan secara otomatis karena alasan keselamatan operator yang juga mendapat efek bahaya dari gas ozon.

Menurut Kristedjo, penelitian mengenai alat ini menunjukkan bahwa 99% virus telah rusak atau hancur setelah terpapar ozon selama 30 detik. Ozon menghancurkan virus dengan menyebar melalui mantel protein ke dalam inti asam nukleat, yang mengakibatkan kerusakan RNA virus.

Efektivitas Sinar Ultra Violet Tipe C

Mengenai konsep teknologi ini, di Universitas Columbia  sejak tahun 2013 lalu sebetulnya telah dipelajari efektivitas lampu UV-C terhadap virus, termasuk virus yang menyebabkan flu. Dan baru-baru ini beralih pada virus corona.  Dan menurut David Brenner yang merupakan seorang direktur di Pusat Penelitian Radiologi Columbia menjelaskan bahwa sinar UV-C dapat menghancurkan virus di permukaan dalam beberapa menit. Hal ini dilansir oleh The Jakarta Post.

Beriringan dengan penjelasan tersebut, seorang Dosen di Prodi Fisika FMIPA ITB yaitu Dr. Eng. Bagus Endar Bachtiar N menjelaskan terkait kemampuan sinar UV-C ini melalui situs resmi ITB pada Kamis (14/5/2020). Beliau menjelaskan bahwa sinar tersebut memiliki energi yang tinggi dan panjang gelombang yang relatif pendek, sehingga sebagai upaya sterilisasi virus ada pada droplet atau aerosol pada suatu objek harus dilakukan bolak-balik, mengingat daya tembusnya yang kecil.

 

Editor : Tegar Tri Sawali