September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

KEMENKES RI Usulkan Terapi Plasma Konvalesen Untuk Atasi COVID-19

Foto : Berbagai Sumber

KEMENKES RI Usulkan Terapi Plasma Konvalesen Untuk Atasi COVID-19

Bandung, Omicron Indonesia-Sejak pertama kali menjangkit warga Wuhan Provinsi Hubei, Cina pada 8 Desember 2019. COVID-19 menyebar dengan begitu cepat hampir ke seluruh Negara yang ada di dunia. Hingga akhirnya pada 11 Maret 2020, WHO mengumumkan bahwa COVID-19 merupakan pandemi global yang sangat mengancam umat manusia. (plasma konvalesen)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Chaolin Huang dari Ji Yin-tan Hospital Wuhan, China mengatakan “gejala utama yang dialami pasien COVID-19 adalah pneomonia atau peradangan paru-paru. Peradangan ini disebabkan infeksi cairan atau nanah yang memenuhi kantong-kantong udara kecil yang berada di ujung saluran paru-paru.”

Masyarakat Dihimbau Untuk Tidak Panik Apabila Melihat Jumlah Kasus Positif COVID-19 di Indonesia

Pada Jumat, 05 Juni 2020 melalui situs resmi www.covid19.go.id/, Pemerintah Indonesia mengumukan bahwa jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 28.818 jiwa. Dengan rincian, sebanyak 8.892 pasien sembuh dan 1.721 pasien meniggal dunia.

Dalam rapat terbatas, Kamis, (04/06/2020) Doni Damara Ketua Gugus Penangan COVID-19 menyampaikan “Semakin banyak kita periksa maka semakin banyak kita terkonfirmasi. Sepertihalnya di Jawa Timur karena jumlah PCR mesinnya sudah semakin banyak kemudian kemampuan daerah juga untuk menjaring ODP dan PDP juga semakin besar sehingga kasusnya meningkat tetapi yang kita harus memperhatikan adalah ketersediaan Rumah Sakit.”

Strategi Kemenkes Dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

Doni juga menyampaikan bahwa salah satu cara masyarakat Indonesia untuk menghadapi pandemi COVID-19 ini  adalah dengan mendonorkan plasma atau terapi plasma konvalesen. Program tersebut merupakan terobosan dari Kemenkes RI yang sudah diakui oleh sejumlah lembaga kesehatan dunia.

“Inilah bentuk gotong-royong kita obat vaksin belum ada, jadi cara pengobatan yang telah dilakukan Kementerian Kesehatan dan telah diakui juga oleh beberapa lembaga internasional menggunakan metode plasma konvalesen dan kita dorong terus supaya pakar kita, ahli-ahli kedokteran kita, ahli kesehatan kita semakin banyak yang memiliki kemampuan untuk terapi plasma ini.,” pungkas Doni.

Baca Juga : ‘New Normal’ Membuat Kita Bermain Dengan Virus Corona?

Terapi Plasma Konvalesen Menurut Ahli

Dr. Verury Verona Handayani mengatakan bahwa “terapi plasma konvalesen merupakan bentuk vaksinasi pasif yang dilakukan dengan menggunakan plasma darah pengidap virus corona yang sudah dinyatakan sembuh.”

Peneliti dari Washington University School of Medicane mengklaim bahwa plasma darah pasien COVID-19 yang sudah pulih mengandung antibodi yang mampu melawan virus COVID-19.

Terapi plasma konvalesen ini dilaksanakan dengan cara mengambil plasma darah pengidap COVID-19 sebanyak 500 cc. Setelah plasma darah dari mantan pengidap corona didapat, pemberian kepada pengidap positif COVI-19 akan berjalan kurang lebih selama 4 jam. Ketika 1 jam pertama tim medis akan mengawasi apakah ada efek samping atau tidak. Jika selama 1 jam pertama tidak ada efek samping yang muncul, maka menadakan prosedur tersebut aman dilakukan.

Perkembangan Terapi Plasma di Indonesia

Palang Merah Indonesia (PMI) yang berkejasama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, yaitu lembaga penelitian biologi molekular di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Lembaga terkait telah melakukan praktik pengembangan terapi. Praktik pengembangan terarpi dilakukan dengan cara mengambil plasma convalescent dari darah pengidap infeksi virus corona, yang telah empat minggu dinyatakan pulih total. Kepala Lembaga Eijkman juga berpendapat bahwa prosedur plasma darah bisa dijadikan sebagai alternatif saat vaksin corona belum tersedia dan di distrubusikan.

 

Editor : Noer Ardiansyah Laksana