September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Jalani Misi Satu Tahun NASA, Bagaimana Astronot Bertahan Hidup di Ruang Angkasa?

Bandung, Omicron Indonesia – Kehidupan manusia dan makhluk hidup lain termasuk tumbuhan dan hewan, berlangsung di sebuah planet yang berjarak  ±150 Juta km dari matahari. Bumi yang sering disebut dengan istilah ‘dunia’ atau ‘planet biru’ ini dimukimi oleh populasi manusia yang tersebar di berbagai benua. Meskipun banyak penelitian yang dilakukan untuk mencari tempat tinggal alternatif selain di bumi, namun hingga kini planet tersebut masih menjadi tempat yang layak untuk hidup dengan jumlah penduduknya mencapai 7,8 miliar menurut perhitungan worldometer.info, sebuah perusahaan media digital di Amerika Serikat.

Bumi banyak memberikan keleluasaan bagi manusia untuk menjalani aktivitasnya. Didukung dengan adanya oksigen yang melimpah sebagai salah satu parameter manusia dapat hidup dengan baik, dan  atmosfer yang bekerja sebagai payung bumi. Sering tak disadari juga bahwa pekerjaan sederhana seperti berjalan, tidur, hingga berkendara, akan menjadi  sangat sulit dilakukan jika bumi tidak memiliki gaya gravitasi.

Apakah Gravitasi Ada di Selain Planet Bumi?

Berbicara mengenai gravitasi, terdapat bagian jagat raya yang memungkinkan manusia atau benda seperti tidak memiliki bobot. Kondisi yang disebut microgravity ini, mengacu pada nilai gravitasi yang sangat kecil. Namun, pemahaman ini tak jarang mengalami miskonsepsi di kalangan masyarakat dengan menyebutnya sebagai ‘Zero Gravity’ atau tidak ada gravitasi.

Pada 27 Maret 2015, NASA dan Rusia mengirim Astronot Amerika Scott Kelly dan Kosmonot Rusia Mikhail Kornienko untuk menjalankan One Year Mission di International Space Station (ISS) atau stasiun angkasa luar internasional. Dilansir dari nasa.gov, misi ini berfokus pada tujuh kategori penelitian untuk menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat tentang tantangan medis, psikologis dan biomedis yang dihadapi oleh astronot selama tinggal di ruang angkasa dengan microgravity dalam waktu yang cukup lama. Pengalaman ini kemudian akan memandu langkah selanjutnya dalam merencanakan misi antariksa dalam jangka panjang yang akan diperlukan saat manusia bergerak ke tata surya yang lebih jauh.

Bagaimana Astronot Bertahan Hidup?

Lalu, bagaimana mereka bisa bertahan dan menjalani kehidupan di ruang angkasa dengan segala keterbatasan? Melalui situs resminya, NASA membagikan informasi mengenai “A Day in the Life Aboard the International Space Station”, dan dipublikasikan melalui Business Insider,  Astronot Scott Kelly membagikan hal-hal menarik selama satu tahun hidup di ISS. Yuk, simak!

Credit: NASA | International Space Station (ISS) merupakan pesawat ruang angkasa besar yang mengorbit mengelilingi Bumi dan berada sekitar 250 mil di atas Bumi. ISS dijadikan sebagai rumah tempat tinggal para astronot dan juga sebagai laboratorium sains.

  1. Ruang angkasa berbau seperti logam terbakar

“Baunya bervariasi tergantung di bagian mana kamu berada. Kadang-kadang memiliki bau antiseptik. Terkadang berbau seperti sampah. Tapi bau ruang saat kamu membuka palka berbau seperti logam yang terbakar bagiku”, jawab Kelly saat ditanyai apakah ISS memiliki bau tertentu.

  1. Tidak mudah untuk tidur di ruang angkasa, dan mimpinya bisa menjadi aneh

“Tidur di sini di ruang angkasa lebih sulit dari pada di tempat tidur, karena posisi tidur di sini adalah sama sepanjang hari. Setelah bekerja, anda tidak akan pernah merasakan relaksasi yang memuaskan diri disini selayaknya yang Anda lakukan di Bumi. Ya, ada suara senandung di stasiun yang memengaruhi tidur saya, jadi saya memakai penutup telinga”.

Credit: NASA | Kondisi tempat tidur di dalam ISS dengan pengikat tubuh astronot.

Lalu, Kelly melanjutkan bercerita mengenai mimpi tidurnya disana. “Saya bukan orang yang bisa tidur nyenyak. Saya rasa saya tidak pernah tidur delapan jam berturut-turut dalam 20 tahun terakhir. Saya akhirnya terbangun beberapa kali. Mimpi saya terkadang adalah mimpi luar angkasa dan terkadang mimpi Bumi. Dan itu adalah mimpi gila”.

  1. Melawan Microgravity

Berbeda dengan di Bumi, tubuh bagian bawah dan kaki membawa beban kita. Kondisi ini membantu menjaga tulang dan otot tetap kuat. Sedangkan, tubuh astronot mengapung dan mengalami perubahan di ruang angkasa. Mereka tidak sering menggunakan kaki mereka.

Seperti yang dijelaskan oleh Kalley, “Kapalan di kakimu di angkasa pada akhirnya akan lepas. Jadi, telapak kakimu menjadi sangat lembut, seperti kaki bayi yang baru lahir. Tapi bagian atas kakiku mengembang seperti kulit aligator yang kasar karena aku menggunakan bagian atas kaki untuk berkeliling di sini”.

Punggung bawah mereka mulai kehilangan kekuatan. Otot kaki mereka juga demikian. Tulang mulai melemah dan kurus. Ini memberikan efek buruk bagi tubuh astronot.

Credit: NASA | Seorang astronot berjalan di atas treadmill agar tetap kuat dan sehat.

“Tampaknya tekanan darah lebih rendah karena tidak harus melawan gravitasi”, kata Kalley.

Jantung dan darah juga berubah, karena tanpa tarikan gravitasi, darah bergerak ke tubuh bagian atas dan kepala. Air di dalam tubuh juga melakukan hal yang sama. Itu membuat wajah para astronot terlihat sembab. Lantas, bagaimana astronot membantu otot dan tulangnya? Mereka harus berolahraga di luar angkasa setiap hari.

  1. Mandi dan menggosok gigi jadi lebih sulit

Di ruang angkasa, astronot juga harus tetap menjaga kebersihan tubuh. Hal ini membutuhkan lebih banyak pekerjaan disana. Para astronot tidak memiliki kamar mandi seperti yang kita miliki di rumah. Namun, mereka memiliki sikat gigi, pasta gigi, sisir, sikat, dan alat cukur sendiri yang disimpan dalam Personal Hygiene Kit.

Credit: NASA | Seorang astronot menyikat giginya saat berada di ruang angkasa.

Astronot menggunakan pasta gigi dan sikat gigi seperti layaknya digunakan di bumi. Untuk menyikat gigi, astronot harus meludah ke waslap. Begitu pula dengan mandi, astronot menggunakan sabun dan sampo khusus yang tidak membutuhkan air untuk dibilas dan menggunakannya dengan hati-hati. Hal ini agar gelembung sabun tidak menyebar ke mana-mana. Setelah dicuci, mereka menggunakan handuk untuk mengeringkannya.

Karena gaya microgravity, toilet di ISS lebih kompleks dari pada yang digunakan orang di Bumi. Para astronot harus memposisikan diri di dudukan toilet dengan menggunakan penahan kaki. Toilet pada dasarnya berfungsi seperti penyedot debu dengan kipas yang menyedot udara dan limbah ke dalam toilet. Setiap astronot memiliki corong urinoir pribadi yang harus dipasang ke adaptor selang. Kipas menghisap udara dan urin melalui corong dan selang ke dalam tangki air limbah.

Baca Juga : Terlalu Keras Mengejar Ambisi, Memang Hidup Untuk Apa?

  1. Kencing di ruang angkasa bisa jadi berantakan

Kelly ditanyai mengenai hal yang paling menjijikan saat menjalani misi satu tahun di ISS. Dia menjawab, “baru-baru ini saya harus membersihkan bola urine berukuran galon yang bercampur asam. Asam ditambahkan ke urin sehingga urin tidak merusak mesin yang menggerakkannya melalui sistem. Itu mencegahnya menyumbat sistem”.

  1. Tangan Astronot selalu dilipat

Gaya microgravity membuat lengan astronot menjadi terasa aneh, “Lenganmu tidak tergantung di samping tubuh di ruang angkasa seperti yang mereka lakukan di Bumi karena tidak ada gravitasi. Rasanya canggung jika lenganmu melayang di depanku. Lebih nyaman jika melipatnya. Aku bahkan tidak membiarkan mereka mengapung dalam tidur saya, sehingga saya taruh di kantong tidur saya”, jelas Kelley.

Sumber: Instagram resmi milik Scott Kelly (@stationcdrkelly)

  1. Etika bersin

“Saya hanya bersin dua kali saat masuk ke tempat kru saya. Dan saya melakukan apa yang saya lakukan di Bumi dan menutup mulut saya dengan tangan. Jika saya tidak melakukannya, mungkin saja bersin dapat ditemukan mengambang di bagian lain. Saya biasanya tidak bersin ke udara terbuka di Bumi atau di sini di luar angkasa”, jawab Kelly saat ditanyai tentang apa yang terjadi jika bersin atau mengeluarkan ingus di luar angkasa.

  1. Tetap rapi dan bersih di ruang angkasa

Di ruang angkasa, astronot tinggal di ruang yang sangat kecil. Mereka harus menjaga kebersihan area mereka di ruang angkasa sebagai mana di bumi. Disana, para astronot membersihkan dinding, lantai, dan jendela agar tetap bersih. Mereka menggunakan sabun yang bisa membunuh kuman. Para astronot juga menggunakan tisu basah untuk mencuci barang. Mereka menggunakan tisu dan pembersih yang sama pada garpu, sendok, dan nampan makan mereka.

Astronot juga harus membuang sampah. Ada empat tong sampah di ISS. Tiga untuk sampah kering dan satu untuk sampah basah. Sampah basah bisa menimbulkan bau tidak sedap, sehingga perlu ditutup rapat dan kemudian dihubungkan ke selang.

Astronot harus menggunakan penyedot debu di luar angkasa. Penyedot debu memiliki selang normal, ni juga memiliki bagian ekstra. Komponen ini dapat membersihkan area yang mungkin sulit dijangkau, mereka juga menggunakannya untuk mencegah debu masuk ke filter udara.

  1. Makan di ruang angkasa

Astronot pada dasarnya melakukan hal yang sama seperti berkemah saat pergi ke luar angkasa. Persiapan bervariasi dengan jenis makanan. Beberapa jenis makanan bisa dimakan dalam bentuk aslinya, seperti brownies dan buah-buahan. Makanan lain membutuhkan tambahan air, seperti makaroni dan keju atau sphageti. Tentu saja, oven disediakan di stasiun luar angkasa untuk memanaskan makanan ke suhu yang tepat. Tidak ada lemari es di luar angkasa, jadi makanan luar angkasa harus disimpan dan disiapkan dengan benar untuk menghindari pembusukan, terutama pada misi yang lebih lama.

Credit: NASA | Pemandangan Astronot Peggy Whitson, insinyur penerbangan (kiri) dan Kosmonot Valery Korzun, komandan (kanan), sedang makan di Service Module (SM) / Zvezda. Tomat dan hamburger mengapung. Foto diambil selama Ekspedisi Lima di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

  1. Misi ruang angkasa bukan hanya tentang bekerja

Di dalam ISS, anggota kru memiliki banyak kesempatan untuk bersantai dan bermain. Seperti kebanyakan orang yang bekerja penuh waktu, astronot mendapatkan libur akhir pekan. Pada hari tertentu, anggota kru dapat menonton film, memutar musik, membaca buku, bermain kartu, dan berbicara dengan keluarga mereka. Mereka memiliki treadmill, dan berbagai peralatan lain untuk membantu menjaga bentuk tubuh mereka. Selama waktu luang mereka, mereka pasti mengambil waktu untuk bermain game dan umumnya bersenang-senang.

Credit: NASA | Spesialis Misi STS-56 Ellen Ochoa memainkan seruling di dek penerbangan belakang pesawat ulang-alik

 

Editor : Tegar Tri Sawali