September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

Di balik istilah “Posting-an ini mengandung Bawang”, Mengapa Bawang Memicu Air Mata?

Di balik istilah “Posting-an ini mengandung Bawang”, Mengapa Bawang Memicu Air Mata?

Bandung, Omicron Indonesia – Kemampuan internet dalam menyebarluaskan segala bentuk informasi dari pengguna, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Bagaimana tidak, sering kali istilah-istilah aneh dan unik dari jejaring sosial bisa begitu cepat diterima dan digunakan masyarakat. Belum menjadi sebuah ‘kejadulan’, saat melihat  caption di foto dan video story/status teman online-mu  yang menyiratkan kesedihan, mereka tak jarang menggunakan kalimat “posting-an ini mengandung bawang”. Pernah mengalami juga, Omicronians?

Tapi, kenapa si bawang dibawa-bawa ke posting-an? Ternyata, dari kalimat yang digunakan tersebut, banyak orang merasa related dengan aktivitas memotong bawang. Proses memotong bawang yang bisa membuat kita mengeluarkan derai air mata ini, kemudian dihubungkan dengan posting-an yang potensial membuat kita menangis juga. Disamping mengumpamakan posting-an sedih dengan bawang, Omicronians pernah berpikir gak apa yang sebetulnya dilakukan bawang sehingga bisa membuat mata kita berair saat memotongnya?

Saat sedang memotong bawang, tak jarang air mata yang keluar menjadi sulit dikontrol. Mulai dari koki hingga pemula di bidang kuliner, reaksi dari bawang ini akan terjadi. Menurut National Onion Association, sekitar 170 negara menanam bawang, dan diperkirakan 9,2 juta hektar bawang dipanen setiap tahun di seluruh dunia. Bawang mengandung kalori yang rendah, vitamin, mineral, dan antioksidan.

Reaksi Kimia Pada Bawang

Dikutip dari Science Daily, seorang ahli dari Texas A&M College of Medicine menjelaskan bahwa reaksi tersebut merupakan bentuk perlindungan diri dari bawang. Karena pada hakikatnya, bawang adalah sayuran yang ditanam dan tumbuh di bawah tanah. Dari kondisi itu, bawang memiliki musuh makhluk hidup di tanah yang ingin mencoba memakannya.

Sulfur dalam kotoran bercampur dengan bawang yang sedang tumbuh, sehingga menghasilkan asam amino sulfoksida, yaitu senyawa sulfur yang mudah berubah menjadi gas. Ketika bawang pecah atau terpotong, bawang akan melepaskan sulfoksida dan enzim, kemudian asam sulfenat terbentuk. Asam sulfenat dan enzim bernama lachrymatory factor (LF) synthase, bereaksi dan menciptakan gas syn-propanethial-S-oxide .

Gas tersebut keluar bebas dari bawang yang terpotong atau tergigit, sehingga akan menghalangi makhluk hidup di bawah tanah untuk tidak melakukan gigitan selanjutnya. Hal tersebut juga yang terjadi pada manusia, gas yang dikeluarkan bawang akan berekasi dengan mata sehingga menghasilkan air mata. Bawang putih dan bawang merah memiliki konsentrasi enzim yang lebih tinggi dalam memproduksi gas syn-propanethial-S-oxide, dibandingkan dengan bawang hijau dan bawang daun.

“Ini benar-benar proses kimia yang rumit dalam menghasilkan gas,” kata Robert H. Rosa Jr., MD, dokter mata sekaligus profesor bedah dan fisiologi medis di Texas A&M College of Medicine. “Mereka semua bertindak sebagai prekursor yang menciptakan proses lachrymatory  atau apa yang membuat Anda menangis.”

Apa Yang Dilakukan Bawang Terhadap Mata?

Menurut Rosa, mata memiliki memiliki serangkaian syaraf yang mendeteksi segala sesuatu yang berpotensi berbahaya. Mata akan bereaksi terhadap gas yang terbentuk, dan mencoba membuangnya dengan air mata. Namun, gas yang dihasilkan oleh bawang hanya bersifat mengganggu, dan tidak membahayakan. Saat memotong bawang, mata akan terasa seperti terbakar, iritasi, hingga menghasilkan air mata. Sensasi ini hanya sementara dan tidak memberikan efek jangka panjang, juga tidak mengakibatkan mata merah atau memperburuk kondisi lain.

Mata yang sensitif lebih dapat mengakibatkan air mata keluar. Dilansir dari Verywellhealth, ada dua jenis produksi air mata yang terjadi di dalam mata. Air mata basal, yang memberikan pelumas dasar untuk mata, dan air mata refleks yaitu jenis air mata yang biasanya keluar saat menangis.

Air mata refleks diproduksi sebagai respons terhadap emosi dan gangguan eksternal. Iritasi eksternal, seperti debu atau asap, memicu ujung syaraf di kornea untuk berkomunikasi dengan otak yang mengaktifkan kelenjar lakrimal. Kelenjar lakrimal, yang berada di bawah kelopak mata atas di sisi pelipis Anda, menciptakan air mata refleks. Kelenjar air mata akan mulai mengeluarkan air mata untuk berpotensi mencairkan atau membersihkan zat penyebabnya.

Baca Juga : Resesi Resmi Mampir ke Indonesia, Apa Dampkanya Untuk Kita?

Menghindari Air Mata Saat Mengupas Bawang

Meskipun bawang memiliki pertahanan dengan gas, Omicronians tetap bisa menghindarinya dengan melakukan tips-tips berikut:

  1. Gunakan pisau yang sangat tajam untuk memotong bawang.

Dengan pisau yang tajam, bawang cenderung memiliki goresan yang lebih tipis, sehingga lebih sedikit mengeluarkan gas. Pisau yang tajam juga mempercepat proses mengiris bawang.

  1. Dinginkan bawang sebelum dipotong (masukkan ke dalam kulkas).

Saat bawah mengalami proses pendinginan, akan terjadi membekukan enzim dari pencampuran antara asam sulfenat dan produksi gas syn-propanethial-S-oxide dihentikan. Akibatnya, asam sulfat tidak akan dihasilkan saat proses memotong bawang.

  1. Rendam bawang dalam air sebelum dipotong.

Gas yang dihasilkan bawang akan terserap ke dalam air. Diamkan bawang dalam mangkuk kecil berisi air selama sekitar setengah jam sebelum mulai memotongnya.

  1. Potong akar bawang di bagian paling ujung.

Akar pada bawang memiliki kandungan enzim lebih banyak, sehingga saat dipotong, kita memiliki kemungkinan terkena gas lebih sedikit.

Bawang Tanpa Air Mata

Teknologi mutakhir telah digunakan oleh ilmuwan jepang untuk memodifikasi genetika bawang bombay dengan menonaktifkan produksi zat kuat yang dilepaskan bawang, tanpa mengurangi bumbu khusus pada pada yang memberikan cita rasa khas. Dilansir dari Daily Mail, saat siaran pers, para ilmuwan mengatakan bahwa sensasi terbakar pada bawang mentah juga berkurang.

Selama penelitian, para ilmuwan menemukan bahwa enzim LF terbentuk dengan adanya enzim yang disebut alliinase (AL), yang biasanya ditemukan dalam bawang putih, dan senyawa yang disebut Prencso.

Dalam prosesnya, House Foods Group membombardir bawang dengan ion radiasi tak langsung, ini dapat mengurangi tingkat enzim LF pada bawang. Peneliti perusahaan yang dipimpin oleh Shinsuke Imai memenangkan hadiah nobel Ig –sebuah penghargaan yang diberikan untuk menghormati pencapaian yang dianggap lucu oleh penyelenggara secara tidak sengaja– pada tahun 2013 atas penemuan mereka tentang proses biokimia di balik proses mengiris bawang yang membuat orang menangis. Makalah penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal Nature pada tahun 2002.

Oleh karenanya bagi omicronians yang terbiasa memasak, terlebih lagi bagi yang suka menggunakan bawang sebagai penyedap alami untuk menambah cita rasa yang ada dalam masakannya, alangkah baiknya untuk melakukan beberapa tips yang telah dijabarkan di atas, agar tidak ada alasan kembali untuk menangis apalagi tersedu-tersedu ketika mengupas dan mengiris bawang.

 

Editor : Tegar Tri Sawali