September 19, 2021

Omicron Indonesia

Aktual dan Terpercaya

BAHAYA GAK SIH, JADI BUDAK CINTA (BUCIN)?

Foto : dailysia.com

BAHAYA GAK SIH, JADI BUDAK CINTA (BUCIN)?

Bandung, Omicron Indonesia – Saat ini, berselancar di jejaring sosial telah menjadi aktivitas yang sulit dihindari. Tak heran, bila suatu topik yang tengah hangat akan sampai secara cepat di kepala warganet. Begitupun dengan frasa-frasa gaul yang dilontarkan seseorang di media hingga menjadi viral dan latah digunakan di dunia nyata. ‘Bucin’ atau ‘Budak Cinta’ adalah salah satunya.

Dikutip dari ngobrolin.id, istilah ‘bucin’ populer sejak tahun 2019. Awal mula diperkenalkan oleh youtuber kakak beradik, Andovi dan Jovi, melalaui channel mereka yaitu SkinnyIndonesia24. Jovi yang mendapat julukan tersebut karena terlalu manut pada pasangannya, berhasil menarik perhatian warganet, dan selanjutnya dikemas menjadi salah satu konten di channel mereka.

Apa Itu Bucin?

Jika ditilik dari akronimnya, ‘Budak Cinta’ terkesan memberi arti yang negatif. Julukan ‘Bucin’ ini biasanya dilontarkan kepada seseorang yang selalu menghabiskan waktunya atau rela melakukan apapun demi bisa terus bersama pasangannya (kekasih). Namun pada realitanya, tidak sedikit orang yang terlalu asbun – asal bunyi – saat menggunakan kata tersebut. Sampai-sampai, perlakuan yang wajar dalam intensitas yang tidak berlebihan pun, sudahlah disebut ‘bucin’, aja!

Remaja umur 20-an dipastikan pernah berada pada fase ‘bucin’, walaupun tidak menutup kemungkinan di usia dewasa, fase ini masih bisa saja dirasakan. Banyak orang merasa nyaman dengan kondisi tersebut, karena sering lebih bersemangat dan mendapat kebahagiaan dari si dia.  Pada kondisi hubungan jarak jauh (LDR), atau kondisi pandemi yang memungkinkan dua orang yang berada dalam hubungan biasa bertemu menjadi sulit, hal ini biasanya menimbulkan perasaan sedih, tidak nyaman, dan tidak punya gairah dalam melakukan produktivitasnya. Kok bisa, ya?

Menjadi Bucin Apakah Baik Bagi Stimulus dalam Otak?

Ternyata, di tahun 2005, kondisi bucin ini sudah diteliti oleh seorang Antropolog Biologi bernama Helen Fisher. Namun beliau lebih sering menyebutnya dengan istilah Romantic Love. Bersama timnya, Fisher melakukan pemindaian otak menggunakan  functional magnetic resonance imaging (fMRI) kepada 17 orang yang sedang jatuh cinta dengan bahagia dan tergila-gila, terdiri dari 10 wanita dan 7 pria. Penelitian ini dilakukan dengan memperlihatkan foto orang yang dicintai untuk memberikan stimulus positif, lalu mengalihkan perhatian mereka dengan cara berhitung mundur, kemudian diperlihatkan kembali  foto orang yang dikenal sebagai stimulus netral.

Dokter Bucin

Sumber: brainworldmagazine.com | Antropolog Biologi yang dijuluki Dr. Love

Studi yang berjudul “Romantic love: An fMRI study of a neural mechanism for mate choice” ini menunjukkan bahwa ketika seseorang sedang jatuh cinta, terjadi aktivitas di wilayah otak yang sama aktif saat seseorang kecanduan kokain dan obat lain. Juga terjadi aktivasi di bagian nucleus accumbens dan ventral tegmental area (VTA), merupakan bagian otak yang memproduksi dan mendistribusi hormon dopamin. Seseorang yang tergila-gila karena jatuh cinta juga terjadi aktivitas di caudate nucleus, yaitu wilayah otak yang membantu mengintegrasikan pikiran dan perasaan kita. Studi ini dipublikasikan dalam Journal of Comparative Neurology pada Desember 2005. bucin budak

Hormon Budak Cinta

Sumber: researchgate.net | Wilayah aktivasi grup terdeteksi pada otak seseorang yang melihat foto orang yang dicintai. Bagian berwarna putih yaitu: (A) ventral tegmental area (VTA) kanan yang aktif. (B) caudate nucleus kanas yang aktif.

Dari penelitian tersebut, bisa dikatakan bahwa perasaan sedih karena tidak bertemu pasangan merupakan hal yang wajar secara biologis. Hormon dopamin yang aktif dua bagian otak tersebut merupakan neurotransmitter atau zat yang bertugas menyampaikan pesan (sinyal) antar syaraf. Tak hanya mengontrol respon mental dan emosi, tapi juga motorik. Dopamin bertanggung jawab atas kebahagiaan atau mood baik yang kita alami, sehingga dikenal sebagai “Happy Hormone”, sebagaimana dilansir dari Science Daily. bucin budak

Jadi, Baikah Menjadi Bucin?

Ini yang menyebabkan seseorang  saat melihat foto, chatting, bertemu dengan orang yang dicintai, seketika menjadi bersemangat dalam menjalankan aktivitas. Karena pada saat hormon dopamin aktif, akan membuat kita merasa penasaran dan ingin mencari tahu lebih dalam tentang ide-ide yang diminati. Dan sebaliknya, jika seseorang sedang merasa jauh dari pasangannya, hormon dopamin akan menurun dan muncul rasa tidak bersemangat. bucin budak

Baca Juga : Cara Suku Sunda Menentukan Nasib Pernikahan Melalui Nama Kedua Pasangan!

Ketika kita mendapatkan kesenangan, maka merupakan hal normal saat ingin mengulanginya kembali, hingga menjadi kecanduan. Dalam hal ini, pelaku bucin dan pecandu narkoba menunjukkan perilaku serupa. Keduanya sama-sama menginginkan lebih. Karena pada dasarnya, dopamin akan terproduksi di otak bukan hanya saat jatuh cinta, tapi juga saat melakukan hal-hal yang disukai (hobi) seperti bermain game, bermain media sosial, menonton film, merokok, hingga meminum alkohol. bucin budak 

Bucin tampaknya menjadi hal yang buruk, jika kebahagiaan hidupnya secara penuh digantungkan pada orang yang dicintai dan seseorang akan selalu merasa tidak sabar untuk bertemu lagi dengan orang tersebut, merasa kesal jika mereka tidak menelepon atau dikabari, merasa layak untuk mendapat informasi menyeluruh tentang kemana dia akan pergi, bersama siapa, naik kendaraan apa. Tak jarang, saat sudah di level bucin, akhirnya seseorang akan memaksakan diri sendiri, pasangan, dan orang orang lain agar merasa kebahagiaannya terpuaskan. Sehingga, secara psikologi hal ini berujung pada sebuah Codependent Relationship. bucin budak

Dilansir dari Omega Mental Health, Psikolog dari Albert Einstein College of Medicine bernama Scott Wetzle menjelaskan bahwa Codependent Relationship menandakan tingkat hubungan yang tidak sehat, di mana seseorang tidak memiliki kemandirian atau otonomi. Satu atau kedua belah pihak bergantung pada orang yang mereka cintai untuk pemenuhan keinginannya.

Bagaimanakah Korelasi Biologis dan Psikologis dengan Keadaan Budak Cinta?

Jika melihat korelasi biologis dan psikologis, Codependent Relationship bisa terjadi pada seseorang dengan keadaan bucin, dan beranggapan bahwa dopamin yang dihasilkan hanya bersumber dari si dia, yang mana tidak selalu mampu menjanjikan kebahagiaan seutuhnya.  Saat kondisi ini bertemu dengan kemungkinan orang yang dicintainya mendistorsi kenyataan dan harapan (mencampakkan atau mengkhianati), mengalami perubahan kepribadian, melakukan hal-hal yang tidak disukai,  mereka akan kehilangan cara untuk mempertahankan hormon dopaminnya.

Untuk menghindari hal tersebut, menjadi bucin yang positif adalah kuncinya. Disamping kewajaran biologis dalam mencintai, seseorang juga harus mampu mencari alternatif yang bisa membuat hormon dopaminnya tetap stabil, yaitu dengan melakukan hal-hal positif yang disukai. Sehingga dengan begitu, homon dopamin akan selalu stabil dengan tidak hanya bergantung pada pasangan. bucin budak 

“Mencintai bukan sekedar ‘kamu harus menghabiskan waktu 24 jam untuk aku’, tapi bagaimana ketika kamu bahagia 24 jam tanpaku, dan hormon dopaminmu tetap terjaga.” – Analisa Widyaningrum. bucin budak

 

 

 

Editor : Tegar Tri Sawali